mengapa kota besar membuat kita merasa kesepian

analisis urban

mengapa kota besar membuat kita merasa kesepian
I

Pernahkah kita berdiri di tengah gerbong KRL yang padat, berdesakan dengan puluhan tubuh manusia lain, tapi di saat yang sama merasa sangat, sangat sendirian? Jarak fisik kita dengan orang di sebelah mungkin cuma nol koma sekian sentimeter. Kita bisa mencium aroma parfumnya. Kita bisa mendengar tarikan napasnya. Tapi jarak emosional kita terasa seperti membentang ribuan kilometer. Ini adalah salah satu ironi terbesar peradaban modern. Kita hidup di kota metropolitan, dikelilingi jutaan manusia, namun banyak dari kita yang diam-diam menelan pil pahit bernama kesepian. Bagaimana mungkin tempat yang paling padat di bumi justru menjadi tempat yang paling sepi? Mari kita bedah teka-teki ini bersama-sama.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita perlu memutar waktu jauh ke belakang. Ratusan ribu tahun yang lalu, otak kita dirancang oleh alam untuk bertahan hidup di padang sabana. Nenek moyang kita hidup dalam kelompok komunal yang kecil, biasanya tidak lebih dari 150 orang. Di dunia sains evolusioner, angka ini dikenal dengan Dunbar's Number. Otak kita secara biologis hanya punya kapasitas untuk benar-benar peduli, percaya, dan mengingat hubungan sosial sedalam itu. Lalu, bom waktu peradaban meledak. Revolusi Industri dan modernisasi memaksa manusia bermigrasi besar-besaran. Padang rumput berganti menjadi hutan beton. Tiba-tiba, otak purba kita yang aslinya didesain untuk mengenali setiap wajah di desa, dipaksa untuk memproses ribuan wajah asing setiap harinya di trotoar, di stasiun, dan di jalan raya. Di titik inilah, mesin di dalam kepala kita mulai merespons dengan cara yang tidak terduga.

III

Tapi tunggu dulu, mari kita pikirkan sejenak. Kalau memang otak kita kewalahan melihat banyak orang, bukankah seharusnya insting bertahan hidup membuat kita lebih ramah agar punya banyak teman? Mengapa refleks alami kita saat berada di lift yang penuh justru menunduk dan menatap layar ponsel? Ada misteri psikologis dan tata ruang yang bermain di sini. Coba teman-teman perhatikan desain kota kita. Gedung-gedung apartemen dibangun menjulang tinggi dan tertutup. Jalan raya didesain luar biasa lebar demi kelancaran mobil, bukan pejalan kaki. Kita membangun pagar rumah yang tinggi dan portal perumahan yang dijaga ketat. Mengapa arsitektur kota kita seolah-olah secara sengaja dirancang untuk memisahkan kita? Dan apa sebenarnya yang terjadi pada sistem saraf pusat kita ketika kita terus-menerus diserang oleh suara klakson, gemerlap lampu reklame, dan lautan manusia tanpa nama?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang cukup menampar kita. Seorang psikolog ternama, Stanley Milgram, pernah mencetuskan apa yang disebut stimulus overload theory. Menurut teori ini, kota besar membombardir indra kita dengan informasi yang terlalu masif dan cepat. Suara, cahaya, pergerakan, hingga potensi bahaya datang silih berganti. Akibatnya, amigdala kita—yakni pusat alarm ancaman di otak—terus menyala tanpa henti. Untuk mencegah agar kita tidak menjadi gila karena kelebihan beban sensorik ini, otak secara otomatis mengambil jalan pintas: kita mulai mematikan empati. Kita membangun pelindung emosional. Itulah sebabnya kita sanggup mengabaikan pengamen di jalan, menghindari kontak mata di transportasi umum, dan tidak tahu siapa nama tetangga sebelah pintu.

Ditambah lagi, tata kota modern perlahan membunuh apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai third places atau tempat ketiga. Tempat pertama adalah rumah, tempat kedua adalah tempat kerja. Tempat ketiga seharusnya adalah ruang publik yang santai—seperti taman kota terbuka, alun-alun, atau perpustakaan warga—di mana kita bisa nongkrong dan berinteraksi tanpa ada tuntutan untuk menghabiskan uang. Di kota besar kita, ruang-ruang ini digusur dan digantikan oleh mal raksasa atau kedai kopi eksklusif yang tanpa sadar mengurung kita dalam gelembung konsumerisme yang individualis. Pada akhirnya, kita menemukan sebuah kebenaran pahit: Kesepian di kota besar bukanlah kelemahan mental kita. Kesepian ini adalah produk dari desain ruang urban yang dingin dan sistem saraf kita yang kelelahan.

V

Mengetahui fakta ilmiah ini seharusnya membuat kita bisa bernapas sedikit lebih lega. Teman-teman, jika hari ini rasa sepi yang aneh itu datang menyelinap di tengah kemacetan atau di keramaian kafe, ketahuilah bahwa kalian tidak rusak. Kalian normal. Kita semua hanya sedang bersusah payah menavigasi otak sabana purba kita di tengah labirin beton yang keras. Tentu, kita mungkin tidak bisa merobohkan gedung pencakar langit atau mengubah tata letak kota dalam semalam. Tapi kita selalu punya kendali atas cara kita hadir di dalamnya. Kita bisa mulai meruntuhkan tembok pertahanan psikologis itu lewat langkah-langkah mikroskopis. Coba lempar senyum tulus ke barista yang membuatkan kopi kita. Ucapkan terima kasih dan tanyakan kabar pada kurir yang mengantar paket. Sapa tetangga saat berpapasan di lorong. Kota besar memang secara sistemik mendesain kita untuk menjadi anonim, tapi kita selalu punya pilihan sadar untuk tetap menjadi manusia. Mari kita rebut kembali ruang koneksi kita, perlahan-lahan, satu sapaan sederhana pada satu waktu.